Harga Kakao Naik Tajam, Kemendag Sebut Ini Efek El Nino
Harga biji kakao kembali mengalami kenaikan pada pertengahan 2026 akibat tekanan terhadap pasokan global. Kementerian Perdagangan mencatat harga referensi kakao periode Juli 2026 mencapai 3.969,56 dolar AS per metrik ton. Angka tersebut naik 137,39 dolar AS atau 3,59 persen dibandingkan periode Juni. Kenaikan terjadi ketika negara produsen utama menghadapi gangguan produksi akibat kondisi cuaca.
Kenaikan harga referensi membuat Harga Patokan Ekspor biji kakao ikut bergerak lebih tinggi. Kemendag menetapkan HPE Juli sebesar 3.646 dolar AS per metrik ton. Nilainya meningkat 134 dolar AS atau sekitar 3,83 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kemendag menyebut cuaca buruk dan penurunan produksi Afrika Barat sebagai penyebab utama kenaikan tersebut.
Afrika Barat merupakan kawasan penting dalam rantai pasokan kakao dunia. Perubahan pola hujan, suhu, dan kekeringan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman serta produktivitas perkebunan. El Nino juga dikenal dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah produsen komoditas. Namun, Kemendag secara spesifik menyebut cuaca buruk dan penurunan produksi sebagai faktor kenaikan Juli.
Harga kakao di sejumlah daerah Indonesia juga mengalami peningkatan. Di Bireuen dan Pidie, Aceh, kakao kering berkualitas bagus mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram pada awal Juli. Pada awal Mei 2026, harganya masih berada sekitar Rp50.000 per kilogram. Kondisi El Nino juga mulai menjadi perhatian petani di wilayah Aceh.
Kenaikan harga dapat memberikan peluang pendapatan lebih tinggi bagi petani ketika produksi tetap terjaga. Namun, penurunan hasil panen berpotensi mengurangi manfaat dari harga jual yang lebih mahal. Perubahan harga global juga dapat memengaruhi industri pengolahan cokelat dan biaya bahan baku. Karena itu, kondisi cuaca dan produksi negara utama tetap menjadi faktor penting bagi pergerakan harga kakao.
