AS-Jepang Dilaporkan Intervensi Yen, Pertama dalam 30 Tahun
Amerika Serikat dan Jepang dilaporkan melakukan intervensi bersama untuk memperkuat yen yang mengalami tekanan berat. Langkah tersebut menjadi intervensi terkoordinasi kedua negara untuk pertama kalinya sejak 1998. Aksi itu dilakukan setelah yen mendekati level terlemah dalam hampir empat dekade. Yen kemudian menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat setelah kabar intervensi beredar.
Intervensi dilakukan dengan membeli yen di pasar valuta asing untuk menahan pelemahan mata uang Jepang. Yen sempat menguat menuju kisaran 157 per dolar AS setelah otoritas mengambil tindakan. Sebelumnya, yen menghadapi tekanan akibat perbedaan kebijakan moneter Jepang dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat dolar lebih menarik dibandingkan yen bagi sebagian investor global.
Pelemahan yen sebenarnya sudah menjadi perhatian pemerintah Jepang selama beberapa bulan terakhir. Pada 30 Juni 2026, yen bahkan sempat menyentuh 162,41 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi level terlemah mata uang Jepang sejak 1986. Pemerintah Jepang sebelumnya berulang kali menyatakan siap merespons pergerakan valuta asing yang dinilai berlebihan.
Jepang memiliki sejarah panjang melakukan intervensi ketika pergerakan yen dianggap terlalu cepat. Pemerintah juga pernah membeli yen secara langsung pada September 2022. Saat itu, Jepang menghabiskan sekitar 2,8 triliun yen untuk menopang mata uangnya. Jepang kembali melakukan beberapa intervensi besar pada 2024 dan 2026.
Keterlibatan Amerika Serikat kali ini membuat langkah tersebut mendapat perhatian besar dari pasar keuangan global. Intervensi bersama dinilai memberikan sinyal kuat untuk membatasi pelemahan yen secara berlebihan. Namun, pergerakan berikutnya tetap dipengaruhi suku bunga, inflasi, dan kebijakan bank sentral kedua negara. Pasar juga akan mengamati kemampuan intervensi tersebut menjaga penguatan yen dalam jangka lebih panjang.
