Harga Minyak Dunia Nyaris Tembus US$80 Imbas Selat Hormuz Memanas

Read Time:1 Minute, 20 Second

Harga minyak dunia kembali melonjak setelah ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat. Kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz mendorong harga minyak mendekati level psikologis US$80 per barel. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar energi global. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak mentah dunia.

Pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026, harga minyak mentah Brent sempat diperdagangkan di kisaran US$79 hingga lebih dari US$80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$74 hingga US$75 per barel. Kenaikan tersebut dipicu memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi semakin memburuk setelah muncul laporan serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz. Investor khawatir distribusi minyak global akan terganggu apabila konflik terus meluas.

Kenaikan harga minyak juga dipengaruhi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Meski masih membuka peluang perundingan, pelaku pasar memilih bersikap hati-hati. Analis menilai ketidakpastian geopolitik membuat permintaan terhadap aset aman meningkat. Di sisi lain, perusahaan pelayaran dan asuransi mulai mengevaluasi kembali aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz karena risiko keamanan yang semakin tinggi.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya impor energi karena masih bergantung pada pasokan minyak dari luar negeri. Kondisi tersebut juga dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, inflasi, serta biaya subsidi energi apabila harga bertahan tinggi dalam waktu lama. Meski demikian, sejumlah analis memperkirakan harga minyak masih dapat berfluktuasi bergantung pada perkembangan konflik dan peluang tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Bank bjb Sedia ORI030, Permudah Akses Investasi Surat Berharga Negara
Next post APINDO Minta Pemerintah Tak Buru-buru Hapus Pajak JHT, Kaji Dampak ke APBN