Isu Laut China Selatan Bisa Ganggu Perdagangan ASEAN, RI Harus Apa?
Ketegangan di Laut China Selatan kembali menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi arus perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute pelayaran tersibuk di dunia yang dilalui kapal pengangkut energi, bahan baku, dan berbagai komoditas ekspor-impor.
Bagi negara-negara ASEAN, stabilitas di Laut China Selatan sangat penting untuk menjaga kelancaran rantai pasok. Gangguan terhadap jalur pelayaran dapat meningkatkan biaya logistik, memperlambat distribusi barang, serta memengaruhi aktivitas perdagangan regional maupun global.
Pengamat menilai Indonesia perlu terus mengedepankan diplomasi dan kerja sama regional. Sebagai salah satu negara pendiri ASEAN, Indonesia memiliki peran strategis dalam mendorong dialog damai, menjaga stabilitas kawasan, serta mempercepat penyelesaian Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan antara ASEAN dan China.
Selain itu, Indonesia dapat memperkuat daya saing pelabuhan, meningkatkan konektivitas logistik, serta melakukan diversifikasi pasar ekspor dan impor. Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi dampak apabila terjadi gangguan terhadap jalur perdagangan tertentu.
Pemerintah juga terus memperkuat keamanan maritim melalui koordinasi dengan berbagai instansi terkait serta meningkatkan kerja sama dengan negara-negara ASEAN. Upaya tersebut bertujuan menjaga kebebasan pelayaran sesuai hukum internasional dan memastikan aktivitas perdagangan tetap berjalan lancar. Para ahli menilai kombinasi diplomasi, penguatan ekonomi, dan peningkatan kapasitas maritim menjadi kunci bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika di Laut China Selatan.
